Pasang Iklan Anda di Blog Ini?
Gak Ribet, Langsung Nego Posisi
Info Lebih Lanjut [ Kontak Kami]

Darimana Gojek, Uber, Grab Mendapatkan Keuntungan?

Perkembangan teknologi merambah ke dunia transportasi. Salah satu yang paling didminati tersebut adalah layanan gojek, uber, grab dan sejenisnya. Dengan memenangkan persaingan harga yang 'kurang wajar' banyak sudah pelanggan yang menggunakan jasa ini.

Lalu bagaimana dengan pihak pemilik aplikasi sendiri. Tampak jelas mereka seperti sebuah perusahaan besar. Padahal secara logisnya dengan harga layanan sebegitu murahnya dirasa tak akan cukup menutupi operasional mereka. Sementara itu pola bisnis ini selalu menjadi daya tarik mendatangkan pemain pemain baru dengan pola yang sama tetapi dengan produk berbeda misalnya. Lantas darimana keuntungan Gojek, Uber, Grab bisa mereka peroleh?

Bagaimana Uber, Gojek dan Grab Meraih Keuntungan?

Dari berbagai sumber yang dikutip dari williamkusumablog.wordpress.com. Menyampaikan sebuah analisa keuntungan para pemilik layanan transportasi berbasis online ini. Beberapa (kemungkinan) cara gojek memperoleh keuntungan adalah.
pendapatan uber, grab dari

Aplikasi yang digunakan konsumen sebagai media periklanan. Para user gojek/uber/grab ini semakin meningkat. Ini jelas setiap ponsel/gadget si user akan terinstal aplikasi gojek/uber/grab. Karena banyaknya pengguan aplikasi ini pasti bisa dimanfaatkan sebagai media iklan yang sangat potensial. Simple analoginya, sama seperti di TV, siaran diberikan gratis pada masyarakat. Tetapi, dengan adanya jumlah penonton yang banyak pada suatu program, maka ini akan menaikkan rating siaran stasiun TV itu. Alhasil banyak pihak yang tertarik untuk beriklan pada TV itu.

Dari data tujuan, rute dan asal pelanggan. Siapa yang pernah berpikir, ketika memesan layanan ini maka data asal, tujuan dan rute akan tercatat oleh pihak pemilik aplikasi. Data ini berpotensial dijual pada pengiklan seperti Billboard. Data tersebut akan menunjukkan rute mana yang paling sering dilalui oleh orang, jadi tentu si pemasang iklan rela membeli data ini demi target iklan. Terkait Cara Menghitung Rating Siaran TV Indonesia.

Data berikutnya bisa saja dari data ketika melakukan pembelian seperti jasa Go Food. Tentu data ini dibutuhkan oleh pengusaha makanan untuk mengetahui selera masyarakat. Kemudian, bagi pengguna Go Clean, secara tidak langsung tentu akan diketahui barang apa yang telah dimiliki, barang apa yang belum banyak dimiliki masyarakat. Nah, data ini bisa saja digunakan bagi produsen barang barang rumah tangga.

Kerja sama dengan pihak penyedia komunikasi. Sebut saja Gojek dengan Telkomsel, Uber dengan Indosat. Semakin banyaknya user tentu akan memperbanyak penggunaan data internet. Hal ini menjadi pasar bisnis untuk perusahaan komunikasi. Contoh lain, pernah ditanyakan pada seorang driver uber, bagaimana sistem bagi hasil dari uber ini. 100% penghasilan untuk driver, hanya driver wajib melakukan setoran ke uber jika tidak salah 25.000/ bulan /minggu saya lupa. Tetapi dari semua itu, yang paling besar konsumsi driver adalah paket data. Di sinilah permainan antara pemilik aplikasi dan jaringan seluler.

Jadi sumber penghasilan gojek,uber, dan grab tersebut bukan dari jasa yang ditawarkan. Orang yang bodohpun berpikir sama, bagaimana bisa mendapatkan keuntungan sebesar itu dengan harga murah. Lihat saja, ojek pangkalan biasa dengan harga yang mahal saja orangnya tak kaya kaya. Keuntungan diperoleh dari 'bisnis' dibalik 'bisnis'.

Pola Bisnis Transportasi Online

Penyebab ricuhnya transportasi online beberapa waktu yang lalu bukan sebenarnya masalah aplikasi, perijinan, regulasi dan lain sebagainya. Buktinya ojek pangkalan selama ini tidak pernah ricuh. Inti utam masalahnya adalah tarif yang tidak wajar. Itu saja.

Dikutip dari sebuah tulisan Satria Mahendra di facebook, ( facebook.com/satria.mahendra) menyampaikan beberap analisa terhadap bisnis transportasi online ini. Satria memberkan ilustrasi sederhana seperti berikut ini.

Andai saya seorang pedagang bakso. Modal Seporsi Bakso harganya misalkan 8ribu rupiah. Kemudian dijual dengan harga Rp 10.000,-. Lalu saya menerapkan berjualan bakso dengan harga Rp 4000/ porsi. Apa itu wajar? Lalu bagaimana ini bisa terjadi?

Kesimpulan dari analisanya adalah back up modal menutupi operasional seperti iklan dan lainnya adalah dari investor. Lalu keuntungan apa yang diraih investor ini? Sama juga dengan perihal facebook, Google yang memberikan berbagai macam layanan gratis pada kita.

Tak lain dan tak bukan adalah dari advertising. Dengan banyaknya penggun lengkap dengan demografisnya ini menjadi lahan segar untuk periklanan. Facebook, Google pasti pernah melihat iklan iklan mereka bukan. Itulah pendapatan mereka. Sama halnya dengan Aplikasi Gojek, Uber dan Grab; bisa saja mereka mengarah ke arah demikian nantinya.

Pola berikunya (mungkin) dengan bermain investasi. Contohnya nya begini. Misalkan bakso tadi. Saya berhasil mendapatkan investor dengan modal 1 M. Saya berikan prospek laba 20% dalam setahun.uang 1 M= 200jt keuntungan saya + 100 jt untuk modal bakso + 700 juta modal promosi, iklan. Baca Juga : Tokopedia, Bukalapak Untung Darimana?

Karena banyaknya pengguna, pada tahun ke-dua, saya cari kan investor yang berani invest 2 M dengan prospek tetap 20%. Dari uang 2 M = 1,2 M saya berikanpada investor pertama untuk memenuhi janji saya, sisa 800 jt. 800 jt = 100jt modal bakso, 500jt modal promosi dan iklan dan 200 jt masuk kantong saya lagi. Begitu seterusnya.

Apabila perusahaan saya sudah bernilai besar, maka saya jual ke orang lain dengan harga 100M atau bisa saja saya masukkan IPO atau dengan memasukkan perusahaan ke bursa saham. Nantinya, dengan perdagangan saham ini lah salah satu yang memberikan keuntungan dan modal lebih besar untuk memonopoli pasar lebih jauh.

Itula sedikit ulasan kemungkinan dari mana Gojek, Grab, Uber mendapatkan keuntungan. Tulisan ini hanya bersifat opini. Jika ada yang kurang berkenan atau tambahan bisa menambahkan dikolom komentar.

Loading...